Sabtu, 04 Februari 2012

Menulis


Aku hanya ingin menulis, itu saja. Tapi aku tidak tahu apa yang akan aku tuliskan. Menulis mengenai kegiatanku hari ini, kurasa tidak, itu hanya akan menyebarkan sebagian kecil privasi kepada orang lain. Mengenai kegalauan hati, kurasa juga tidak karena kurasa akan semakin ruwet saja kalau dituliskan dan dituangkan menjadi kata-kata. Atau malahan akan semakin bingung kalau membacanya.

Aku hanya ingin menulis saja, yang sederhana, titik. Tidak peduli apa yang dipikirkan orang lain tatkala membacanya. Mengapa harus peduli dengan apa yang dipikirkan dengan orang lain? Karena kurasa diriku sendiripun belum sepenuhnya mengerti tentang sebenarnya diri ini. Jadi lebih baik menyelami diri sendiri dari pada memikirkan pemikiran orang lain terhadap diri ini.

Aku hanya ingin menulis, itu saja. Tulisan yang akan menjadi dokumentasi diri, yang mencerminkan perkembangan pemikiran, perkembangan diri. Tulisan yang mencerminkan sampai dimana diri ini telah berkembang. Perkembangan menuju yang lebih baik atau sebaliknya.

Aku hanya ingin menulis, dimana ketika membacanya suatu saat nanti aku ingin tersenyum. Mengenang kembali saat-saat malam dan saat-saat siang dalam hidup yang telah kulalui. Itu saja. Sederhana. Sesederhana hidup ketika kita mulai memikirkan dan mulai mencari maknanya.

Minggu, 01 Januari 2012

Do'a













ya Tuhan
dengarkanlah permintaan hati
yang teraniaya sunyi
dan berikanlah arti pada hidupku
yang terhempas yang terlepas
pelukanMu, bersamaMu
dan tanpaMu aku hilang selalu

ya Tuhanku
inikah yang Kau mau
benarkah ini jalanMu
hanyalah Engkau yang kutuju
pegang erat tanganku
bimbing langkah kakiku
aku hilang arah
tanpa hadirMu

Tuhanku
dalam gelapnya malam hariku
sedih ini tiada arti
jika Kaulah sandaran hati


diambil dari lirik lagu "Permintaan Hati dan Sandaran hati" oleh Letto

Sabtu, 31 Desember 2011

Yang Muda

Saat muda identikkah dengan nongkrong, jalan, berhura-hura dengan uang mencari kesenangan. Bagaimana dengan yang tidak bisa memilikinya, melakukannya atau tidak ada ketertarikan dengan hal-hal itu. Disebutnya dengan ‘tidak asyik denganmu’. Sekedar itukah menjadi muda, wujud aktualisasi menjadi muda bagi yang sudah berkarya dan sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Tidak terpikirkah untuk melakukan sesuatu yang berbeda dengan uang yang sudah kita miliki selain untuk kesenangan pribadi yang sementara. Yang mungkin hanya bertahan sehari saja. Wujud kepemilikan karena dorongan keinginan dan tentunya hanya berkutat dengan hal-hal sendiri. Selagi muda, selagi punya uang sendiri selagi entah apalagi, ternyata hanya seperti itu sajakah. Refreshinglah yang terkadang menjadi alasan, padahal stress atau dorongan dari kerja atau lingkungan juga tidak ada.

Menikmati hidup, di saat muda, seperti itukah caranya. Dan pastinya, perbedaan latar belakang, sosial keluarga akan berpengaruh dalam menanggapi dan memikirkan istilah ‘menikmati hidup’. Menikmati hidup dengan bijaksana, dengan masih berpijak akan kesadaran. Kesadaran akan kemampuan diri. Bukan menikmati hidup yang sekedar hanya untuk pelarian. Pelarian akan kesepian, pencapaian eksistensi diri yang belum tercapai, ketakutan, kekhawatiran. Sebenarnya hidup akan terasa nikmat kalau kita merasakannya secara bersama-sama dengan orang-orang terkasih, orang-orang tersayang, keluarga dan bukan hanya diri sendiri yang menikmatinya. Semakin banyak orang yang mendapatkan dan merasakan nikmat yang kita dapatkan, saya rasa hidup akan semakin lepas, terbebas dari beban yang ada di pikiran walau itupun juga tidak lama. Karena siapapun yang masih hidup akan tetap mempunyai beban pikiran tergantung bagaimana diri kita mengendalikannya. Karena apapun itu di hidup ini tidak akan bertahan lama, karena semuanya akan berlalu. Saat berlimpah, saat kaya, saat senang, saat terang, saat menyenangkan, saat kekurangan, saat sedih, saat gelap, saat muda, saat diatas, saat dibawah ingatlah selalu semuanya pasti akan berlalu. Oleh karena itu, “janganlah terlalu berlebih-lebihan dalam segala sesuatu”. Dan hanya ini pesan untuk yang muda yang sedang menikmati hidup.

nongkrong 2 Oktober 2011

Rabu, 21 September 2011

Sepertiga Abad

Sepertiga Abad berlalu,
Dan akan terus melaju,
Tanpa mau berkompromi dengan waktu,

Menelusuri diri,
Mempertanyakan keinginan hati,
Sudikah untuk berhenti?